Paket untuk Abah: Perjalanan Sat Set yang Menghubungkan Hati


 

Abah tak pernah banyak bicara, tapi kasih sayangnya selalu hadir lewat tindakan. Saat kecil, aku ingat betul, setiap pagi ia akan membangunkanku lebih awal, menyiapkan sepatu yang sudah dibersihkan, lalu memboncengku ke sekolah dengan jaket biru tuanya yang sudah mulai pudar. Jaket itu tebal, hangat, dan selalu punya aroma khas yang membuatku merasa aman.

Setelah aku merantau, momen-momen seperti itu hanya jadi potongan kenangan yang kadang lewat di benak saat rindu datang diam-diam. Ulang tahun Abah selalu mengingatkanku pada hal-hal sederhana tapi bermakna itu. Tahun ini, aku ingin mengirimkan sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan di layar Sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum, lalu berkata, “Anak Abah masih ingat.”

Tapi rencana sederhana ini justru membuatku kelimpungan. Di tengah tumpukan deadline kerja, aku bahkan nyaris lupa tanggal ulang tahun Abah hanya tinggal tiga hari lagi. Aku panik. Aku belum beli jaket. Belum nulis surat. Belum tahu pakai jasa pengiriman apa. Waktu terasa begitu sempit. Dalam hati, aku bertanya: sempat gak, ya?

Malam itu aku pergi ke pusat perbelanjaan yang masih buka. Menyisir satu per satu toko yang menjual jaket. Ukuran harus pas, warnanya harus biru tua. Aku ingin jaket itu seperti perpanjangan dari kenangan kami. Setelah hampir dua jam mencari, aku menemukannya. Jaket biru dengan bahan fleece yang tebal dan nyaman. Aku mengelus permukaannya, membayangkan Abah memakainya sambil duduk di teras, menyesap kopi, menatap langit pagi.

Sampai di rumah, aku duduk termenung di depan secarik kertas. Sudah lama aku tidak menulis dengan tangan. Kata-kata terasa sulit keluar, seperti ada sekat antara pikiranku dan pulpen. Aku menulis, menghapus, lalu menulis lagi. Akhirnya, dengan kalimat sederhana aku tulis, “Terima kasih, Bah. Untuk semua pagi yang kau berikan. Kini, biarlah jaket ini yang menjagamu dari dingin. Dari anakmu, yang sedang belajar jadi sepertimu.”

Pagi berikutnya, aku berangkat ke gerai JNE dengan napas setengah lega. Tapi juga cemas. Waktu mepet. Apakah bisa sampai tepat waktu?

Gerai JNE sudah ramai, tapi suasananya tetap hangat. Petugas konter menyapaku dengan senyum, “Mau kirim paket, Kak?”

“Ke Tanjungpinang, Mas. Sebelum hari Sabtu mesti sampai. Bisa nggak, ya?”

Ia membaca label tujuan dan berkata sambil mengangkat alis, “Hmmm… sebentar ya, kita cek. Tapi jangan khawatir, kita SAT SET kok. Kalau pake YES, Insya Allah nyampe besok.”

“SAT SET?” tanyaku sambil tersenyum heran.

“Yoi, Kak. Serba cepat, tapi tetap rapi. JNE gitu loh,” katanya sambil mengedip dan tertawa kecil.

Aku ikut tertawa. “Bagus tuh slogannya. Bisa masuk iklan.”

“Kalau Kakak kasih testimoni bagus, kita bantu masukin, deh,” katanya sambil menyiapkan resi.

Suasana jadi akrab. Aku merasa seperti sedang menyerahkan paket pada teman lama. Bukan cuma sekadar pelanggan dan petugas.

“Isinya apa ya, Kak?” tanyanya lagi.

“Jaket dan surat. Untuk ulang tahun Abah saya.”

Petugas itu mengangguk pelan. Ia mengambil bubble wrap, menambahkan lapisan kardus, lalu menempelkan stiker merah besar bertuliskan “FRAGILE”. “Kalau soal hati, harus dibungkus dengan ekstra hati-hati,” katanya pelan.

Aku terdiam. Entah kenapa kalimat itu menancap di hati.

Perjalanan pulang justru penuh deg-degan. Akankah paketnya sampai? Bagaimana kalau telat? Bagaimana kalau salah kirim? Aku sempat membuka aplikasi pengiriman lain malam sebelumnya, tapi tidak ada yang menjanjikan waktu secepat dan seyakinkan JNE. Apalagi, sejak dulu keluargaku pun lebih mengenal JNE. Bisa dibilang semacam langganan tidak resmi. Dan nyatanya, keputusan itu tak salah.

Esok harinya, sebelum sempat mengecek notifikasi, adikku menelepon.

“Bang, paket sampai! Abah langsung buka. Waktu lihat jaketnya, dia ketawa. Tapi pas baca suratmu, dia diem lama. Terus matanya berkaca-kaca.”

Aku menahan napas. Tak ada kalimat balasan. Hanya keheningan yang terasa hangat. Seolah rindu yang selama ini menggantung akhirnya sampai ke tujuannya.

Pengalaman ini mengajarkanku bahwa cinta bukan hanya perkara hadir secara fisik. Ia bisa menempuh jarak ribuan kilometer, menjelma dalam selembar surat, atau sepotong jaket biru tua. Tapi untuk bisa sampai, cinta butuh jembatan. Dan bagiku, JNE adalah jembatan itu.

Di balik kurir yang datang tanpa lelah, petugas yang tetap ramah meski antrean panjang, hingga sistem pelacakan yang detail. Ada dedikasi yang membuatku yakin: mereka bekerja bukan hanya mengantar paket, tapi juga harapan, kerinduan, dan rasa sayang yang tak terucap.

JNE bukan hanya perusahaan logistik. Ia adalah bagian dari kisah banyak orang. Seperti aku. Seperti Abah.

Kini, saat video call dengan Abah, aku selalu melihat jaket biru tua itu tergantung di kursi belakang. Ia tak perlu mengatakannya, tapi aku tahu: ia merasa dicintai.

Terima kasih, JNE. Telah membantu cinta kami sampai pada waktunya.

"Menurut kamu, pengalaman mana yang paling berkesan waktu pakai JNE?”

“Tertarik coba juga? Share di kolom komentar, ya!”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AULI WARDIAN AZHAR TERPILIH MENJADI KETUA UMUM IMTA-PEKANBARU PERIODE 2022/2023

Moderenisasi Beragama